Jum'at, 09 Desember 2022 | Jam Digital
Home Ekonomi Politik Nasional Regional Hukum Lifestyle Internasional Sport Hiburan Travel Indeks
Follow Us ON :
 
Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Disebut Bukti Gagalnya Kerja BRG
Senin, 02-09-2019 - 06:46:06 WIB

TERKAIT:
   
 

JAKARTA - Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil yang tergabung dalam Koalisi Eye on the Forest (EoF) menilai Badan Restorasi Gambut (BRG) gagal melakukan restorasi gambut sehingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih kerap terjadi.

”Kita melihat secara luas restorasi ini capaian restorasi yang dikoordinasi oleh BRG masih sangat rendah di lapangan yang sudah direstorasi baru 8 persen dari target, padahal sudah tahun ke-4,” ujar Deputi Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Okto Yugo, dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019).

Jika merujuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 tahun 2016 tentang BRG, di tahun pertama BRG seharusnya mampu merestorasi lahan gambut seluas 30% dan mencapai 70%-90% di tahun keempat.

Akibat restorasi optimal, Okto menyebut karhutla belakangan terjadi di Riau yang mengakibatkan sekitar 22.000 orang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ”35 ribu hektar kembali terbakar, dampak dari restorasi gambut yang tidak dilakukan dengan serius dan banyak melanggar aturan, dan tidak sesuai dengan semangat di tahun 2015," tegas Okto.

Sejauh ini, penanganan karhutla oleh pemerintah masih mengandalkan konteks pemadaman di lapangan. Yakni, dalam upaya pemadaman membutuhkan air yang banyak di lahan gambut, sementara air tidak tersedia. ”Jadi kemarin asap hilang bukan karena penanganan kebakaran, tapi karena adanya hujan,” tandas Okto.

Dikutip situs potretnews, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau mengkritisi kinerja BRG yang hanya fokus semata pada lahan non konsesi, sementara lahan konsesi yang dikelola korporasi terabaikan.

”Bicara gambut tidak hanya konsesi dan non konsesi tapi landscape secara keseluruhan, itupun di daerah nonkonsesi ditahan airnya, akhrinya gambut di lahan konsesi kembali ditanami akasia," ujar Riko.

Kembali ditanaminya lahan gambut yang seharusnya direstorasi, menurut Riko akibat Peraturan Menteri LHK No.10 tahun 2019 tentang Penentuan, Penetapan dan Pengelolaan Puncak Kubah Gambut Berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut, yang merupakan kemunduran dalam komitmen untuk melaksanakan pemulihan Iahan gambut paska kebakaran 2015.

Permen 10 tahun 2019 jelas-jelas sebuah kemunduran. Kehadiran peraturan menteri ini sungguh mengagetkan. Kebijakan ini memberikan peluang korporasi untuk kembali beroperasi seperti biasa layaknya sebelum tahun 2015, ujar Riko.

Anggota EoF yang terdiri dari Jikalahari, WALHI dan WWF Indonesia meminta Presiden untuk mencabut Permen 10 tahun 2019 serta mengevaluasi kinerja BRG yang akan habis masa tugasnya tahun depan.

"Dalam konteks Riau target restorasi pemulihan tidak sampai 10% dalam empat tahun, wajar kebakaran 2019, itu membuktikan gambut belum pulih dan masih kering," pungkas Riko. (hrc)



 
Berita Lainnya :
  • Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Disebut Bukti Gagalnya Kerja BRG
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Kepala Bapenda Tetapkan Desember 2022 Bulan Lunas PBB
    02 DPRD Riau Sampaikan Tujuan Ranperda Tentang Pemberdayaan Ketahanan Keluarga
    03 Calon Anggota DPD RI Wajib Serahkan Minimal 2.000 Dukungan Sebelum Mendaftar
    04 Jelang Nataru, Harga Ayam Potong dan Cabai di Pekanbaru Naik
    05 Resmi Berlaku 2023, UMK Pekanbaru Ditetapkan Gubernur Rp3,3 Juta
    06 Lima Unit Rumah di Jalan Pattimura Pekanbaru Terbakar
    07 Pj Wako Pekanbaru: Sesekali Pakai Beras Bulog, Cegah Inflasi
    08 Provinsi Riau Bakal Dapat DBH Triliunan Rupiah dari Sawit
    09 Sudah Ditetapkan, Ini Rincian Tarif Tol Pekanbaru - Bangkinang
    10 PPKM Level 1 di Pekanbaru Berlanjut Hingga 2023
    11 Bapenda Pekanbaru Kejar Sisa Target Pajak Rp89 M
    12 Pasca Bom Bunuh Diri di Astanaanyar, Kapolda Riau Instruksikan Perketat Penjagaan
    13 Kapolda Riau Minta Jajaran Perketat Pengamanan Mako
    14 Besi Pembatas Jembatan Siak III di Atas Polair Hilang, Diduga Dicuri
    15 Ini Titik Longsor di Riau yang harus Diwaspadai
    16 Realisasi Keuangan APBD Riau 76,64 Persen
    17 Dishub Riau Tilang 2.237 Kendaraan saat Operasi Gabungan 2022
    18 Wagubri Buka Rakor Akhir Gugus Tugas Reforma Agraria Riau 2022
    19 Polda Riau Ungkap Sindikat Narkoba Internasional, 91 Kg Sabu dan 25 Kg Ganja Disita dari 12 Tersangka
    20 Gubri Ajak Jaga Negeri dari Maksiat, Agar Jauh dari Bencana
    21 Pelayanan Bedah Plastik RSUD Arifin Achmad Sudah Tangani Ratusan Pasien
    22 Kakanwil Kemenag Riau Terima Kunker Stafsus Wapres,Ini Pembahasnya
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © sinarnews.co.id